Category Archives: Kegiatan

Daya Dukung Lahan dan Lingkungan dalam Pemanfaatan Sumberdaya Alam Kabupaten Nunukan

Pada Akhir tahun 2014 UPT. Ekosistem Tropis dan Pembangunan Berkelanjutan/Tropical Ecosystem and Sustainable Developtment (TESD) Unmul bekerjasama dengan Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah Kabupaten Nunukan menyusun dokumen Daya Dukung Lahan dan Lingkungan dalam Pemanfaatan Sumberdaya Alam.

FullSizeRender (2)

Penyusunan dokumen “Daya Dukung Lahan dan Lingkungan dalam Pemanfaatan Sumber Daya Alam (SDA) Kabupaten Nunukan” ini adalah untuk menghasilkan gambaran tentang kondisi kekinian (existing) mengenai daya dukung lingkungan (dalam hal ini lahan dan air) terhadap implikasi dan prospek pemanfaatan SDA di Kabupaten Nunukan, terutama untuk kegiatan atau bidang pembangunan berbasis lahan (land-based sectors) yaitu Kehutanan, Perkebunan, Pertanian (dan Peternakan), Perikanan, dan Pertambangan, sedangkan tujuan umum dari pelaksanaan kegiatan tersebut adalah untuk menyediakan informasi dan pedoman bagi pemerintah daerah, masyarakat dan swasta di Kabupaten Nunukan dalam rangka merencanakan dan melaksanakan kegiatan pembangunan SDA daerah yang lebih efektif, efisien dan berkelanjutan atau selaras dengan karakteristik lingkungan setempat.

penyusunan rencana kehutanan tingkat provinsi (RKTP) kalimantan utara tahun 2015-2035

Pengurusan, pengelolaan dan pemanfaatan SDH (sumber daya hutan) harus dilakukan dengan mempertimbangkan keseimbangan fungsi ekonomi, kelestarian lingkungan dan dinamika sosial budaya sesuai karakteristiknya yang bersifat multi dimensi dalam basis keruangan yang lebih pasti. Dengan kata lain Rencana Kehutanan baik di tingkat nasional (RKTN), tingkat provinsi (RKTP), tingkat kabupaten (RKTK) maupun tingkat pengelolaan hutan (RKPH) merupakan suatu kebutuhan yang sangat mendasar untuk memberikan arah pengurusan hutan ke depan melalui pemanfaatan secara optimal dan lestari, potensi multi fungsi kawasan hutan demi mewujudkan kesejahteraan rakyat serta untuk meningkatkan kontribusi nyata sektor kehutanan bagi kepentingan lingkungan global. RKTP meliputi seluruh aspek pengurusan hutan diantaranya perencanaan kehutanan, pengelolaan hutan, litbangdiklatluh (penelitian, pengembangan, pendidikan, pelatihan dan penyuluhan) dan pengawasan. Karena bersifat jangka panjang (20 tahun), maka RKTP juga memuat arahan makro yang bersifat indikatif. RKTP sebagai rencana sektor kehutanan akan menjadi acuan bagi penyusunan rencana-rencana yang cakupannya lebih rendah baik berdasarkan skala geografis, jangka waktu rencana maupun program-program pembangunan kehutanan di Kaltara.

FullSizeRender (1)

Pada akhir tahun 2014  Dinas Pertanian, Kehutanan dan Ketahanan Pangan Provinsi Kalimantan Utara bekerja sama demga UPT. Ekosistem Tropis dan Pembangunan Berkelanjutan/Tropical Ecosystem and Sustainable Developtment (TESD) Unmul menyusun dokumen RKTP Provinsi Kaltara tahun 2015 – 2035.

Maksud dari penyusunan RKTP Kaltara adalah untuk menghasilkan rujukan perencanaan kawasan dalam jangka panjang (20 tahun) untuk sektor kehutanan di Kaltara, yang akan menjadi landasan (pedoman/arahan) perencanaan bagi pemerintahan Kaltara (termasuk pemerintah kabupaten/kota) dalam perencanaan regional dan perencanaan pembangunan sektoral kehutanan serta parapihak lainnya untuk menjamin tercapainya tujuan penyelenggaraan kehutanan dengan mengoptimalkan pemanfaatan multifungsi hutan.

Sedangkan tujuan dari penyusunan RKTP Kaltara  adalah untuk menyediakan produk dalam bentuk dokumen perencanaan spasial/kawasan jangka panjang sektor kehutanan di Kaltara yang memberikan arah penggunaan kawasan hutan bagi kepentingan perencanaan pembangunan kehutanan selama 20 tahun ke depan; agar dapat mengembalikan potensi multifungsi dari hutan serta pemanfaatannya secara lestari bagi kesejahteraan masyarakat dan menghasilkan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah dan kepentingan pemeliharaan lingkungan global.

penyusunan database kehutanan kalimantan utara

Kehutanan merupakan salah satu sektor penting di Kalimantan Utara (Kaltara), mengingat potensi hutan yang mencapai 5,6 juta ha serta perannya dalam menggerakkan sistem perekonomian daerah. Dalam konteks pengelolaan, Dinas Pertanian, Kehutanan dan Ketahanan Pangan selaku pengemban regulator, telah memulai berbagai langkah ke arah tersebut. Salah satu langkah fundamental yang tengah dilaksanakan adalah penyusunan Database Kehutanan Provinsi Kalimantan Utara, yang dimaksudkan untuk menjadi dasar pengelolaan kehutanan Kaltara, baik dalam hal perencanaan program pengelolaan sampai pada pengawasan dan evaluasi pengelolaan.

Dok-Dabse-kaltara

Pada akhir tahun 2014 UPT. Ekosistem Tropis dan Pembangunan Berkelanjutan / Tropical Ecosystem and Sustainable Development (TESD) Unmul bekerjasama dengan Dinas Pertanian, Kehutanan dan Ketahanan Pangan Kalimantan Utara menyusun dokumen Database Kehutanan Kalimantan Utara.

Diharapkan dokumen ini menjadi bahan rujukan dalam kepentingan  perencanaan dan pengambilan keputusan untuk berbagai hal yang berkenaan dengan hutan dan kehutanan di Kaltara. Sehingga tercipta kesepemahaman persepsi yang memudahkan koordinasi dalam kerangka mewujudkan pembangunan kehutanan yang lestari.

Survei Identifikasi Keanekaragaman Hayati pada Areal Konsesi PT. Silva Rimba Lestari

Dalam pengelolaan hutan alam (IUPHHK-HA) maupun hutan tanaman industri (IUPHHK-HTI) yang berorientasi kelestarian (sustainable), kelestarian keanekaragaman hayati adalah salah satu aspek penting yang harus diperhatikan dan yang harus dikelola oleh Unit Manajemen (UM). Namun demikian sering kali minimnya  informasi yang dimiliki oleh unit manajemen tentang potensi keanekaragaman hayati (biodiversity)  yang berada dalam areal kerja membuat kendala dalam pengelolaannya, terutama pengelolaan  jenis-jenis yang dilindungi oleh perundang-undangan. Untuk itu adalah penting untuk melakukan  inventarisasi terhadap keanekaragaman hayati (flora & fauna) di dalam areal unit manajemen yang dapat digunakan sebagai data dasar (data base) dalam menyusun perencanaan dan tindak lanjut  pengelolaan secara lestari.  Menjaga kelestarian kehati (biodiversity) bukan saja memberikan keuntungan secara ekologis  namun demikian secara ekonomis juga akan berdampak pada penilaian positif terhadap performa  unit manajemen di mata pasar global yang sudah semakin sadar akan pentingnya konservasi kehati.

Pada bulan September 2014 UPT. Ekosistem Tropis dan Pembangunan Berkelanjutan / Tropical Ecosystem and Sustainable Developtment (TESD) bekerjasaman dengan PT. Silva Rimba Lestari (SRL) melakukan kegiatan survei/studi identifikasi keanekaragaman hayati (kehati) dalam konsesi PT. SRL.

Ada 6 (enam) taksa hayati yang menjadi fokus studi yaitu:

    • Avifauna (burung)
    • Mamalia (mamalia besar dan kecil)
    • Insecta (kupu-kupu dan capung)
    • Herpetofauna (reptil dan amfibi)
    • Ikhtiofauna (ikan)
    • Vegetasi (tumbuhan tingakat tinggi dan herba)

Selain survei,  TESD juga melakukan pelatihan teknik identifikasi dan monitoring kehati bagi staf/karyawan PT. SRL. Pelatihan bertujuan untuk meningkatkan kapasitas  karyawan dalam pemahaman keanekaragaman hayati, dan diharapkan pasca pelatihan Unit Manajeman dapat melakukan montoring  kehati secara mandiri.

Seminar Internasional

“TOWARDS SUSTAINABLE TROPICAL ECOSYSTEM MANAGEMENT FOR GREEN ECONOMIC DEVELOPMENT”

(MEWUJUDKAN PENGELOLAAN EKOSISTEM TROPIS YANG LESTARI GUNA MENDUKUNG PEMBANGUNAN HIJAU)

4web

 

Kawasan tropis merupakan ekosistem yang sangat menarik perhatian dunia, dimana kawasan ini hanya mencakup 7% dari total luas bumi, namun lebih dari separuh kekayaan hayati dunia dapat ditemukan pada daerah ini (Terborg 1992). Ekosistem tropis juga lebih menarik lagi dengan tingginya tingkat endemisitas jenis hayati, bahkan 15 dari 25 biodiversity hotspots ditemukan dikawasan tropis (Myers et al. 2000). Untuk itu sangat realistis apabila ekosistem tropis disebut sebagai pusat megabiodiversitas dunia (Begon et al. 2006, Reichholf 2008).

Dibalik kekayaan hayati yang begitu melimpah, juga menghadirkan tantangan yang begitu besar dalam pengelolaannya. Selain masih banyaknya taksa dan karakteristik ekologi yang belum tersentuh oleh para ilmuwan (Kristensen et al. 2007, Reichholf 2010), tendensi tekanan dan ancaman eksistensi ekosistem juga memperlihatkan grafik semakin meningkat. Berbagai bentuk investigasi yang telah dilakukan memberikan titik terang, bahwa alasan ekonomi menjadi faktor utama terjadinya kerusakan ekosistem di kawasan tropis dan kegiatan deforestasi sebagai wujud pengrusakan ekosistem tropis yang terbesar (Wilson 1988, Sodhi et al. 2004). Indonesia sebagai pemilik ekosistem tropis terbesar kedua setelah Brazil, turut memberikan andil yang cukup besar terhadap besaran laju deforestasi secara global, yakni mencapai angka 500–800 ribu ha per tahun dalam rentang 2006–2010 (FAO 2010, Kemenhut 2011). Bahkan justru data terbesar deforestasi terjadi pada rentang waktu 2000-2005 yang mencapai 1 juta ha per tahun (Dephut, 2005). Deforestasi tersebut akan memicu terjadinya perubahan-perubahan habitat yang mendatangkan konsekuensi-konsekuensi terhadap penurunan sumberdaya alam, kehilangan keanekaragaman hayati, terganggunya jejaring ekosistem yang rentan, serta berpotensi mempengaruhi sistem peradaban manusia.

Besarnya potensi sumberdaya alam dan permasalahan yang dihadapi dalam pengelolaan ekosistem tropis, menyita perhatian sebagaian besar para pihak, baik dari kalangan birokrat, swasta, akademisi maupun para pencinta lingkungan. Berbagai bentuk donasi beserta lembaganya juga bermunculan, untuk eksplorasi dan penyelamatan ekosistem tropis. Dalam kerangka turut serta menyumbangkan pemikiran dan konsep pengelolaan ekosistem yang lestari, UPT. EKOSISTEM TROPIS DAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN UNIVERSITAS MULAWARMAN (TESD UNMUL) melaksanakan  Seminar Internasional dengan tema utama “Towards sustainable tropical ecosystem management for green economic development”

Seminar ini bertujuan untuk:

    1. Mensosialisasikan hasil-hasil penelitian terkini yang berhubungan dengan pengelolaan ekosistem tropis, permasalahan dan pemecahaannya;
    2. Memberikan wacana alternatif solusi pengelolaan ekosistem tropis secara lestari;
    3. Membuka peluang kerjasama penelitian secara kolaboratif dan komprehensif guna memperkuat strategi dan sistem pengelolaan dan pemanfaatan ekosistem.

Bentuk Kegiatan

Bentuk kegiatan utama adalah seminar yang dibagi dalam beberapa sesi mengangkat tema besar tentang pengelolaan ekosistem tropis yang lestari, baik dari sisi flora dan fauna, maupun industri pemanfaatan serta konflik pengelolaan. Pada saat seremonial pembukaan seminar dilakukan pula penandatanganan nota kesepahaman antara Universitas Mulawarman dengan Provinsi Kalimantan Utara, serta antara Universitas Mulawarman dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

4web-ttd2 4web-ttd1

Seminar diawali dengan Sesi Utama yang menghadirkan empat keynote speakers/address, yaitu dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS), Pemerintah Daerah Kalimantan Timur, Pemerintah Daerah Kalimantan Utara dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) serta Yayasan Kehati, yang menyampaikan tentang garis besar pengelolaan ekosistem tropis berdasarkan perspektif pemerintah dan ilmuwan. Kemudian dilanjutkan dengan empat sesi lainnya, yaitu pengelolaan satwaliar pada ekosistem tropis; strategi konservasi dan restorasi keanekaragaman hayati; manajemen spasial dan manajemen sosial ekonomi budaya dalam mempertahankan keseimbangan ekosistem; dan pemanfaatan sumber daya alam tropis yang berazaskan kelestarian.

Tempat dan Waktu Kegiatan Kegiatan dilaksanakan di Aula Serbaguna Rektorat Universitas Mulawarman lantai 4. Kegiatan  berlangsung dua hari, yaitu pada hari Rabu-Kamis, 10-11 September 2014.

Peserta Kegiatan

Seminar dihadiri oleh semua kalangan, seperti akademisi, peneliti, lembaga swadaya masyarakat, instansi pemerintah dan mahasiswa.

Proceedings

Proceedings seminar dapat diunduh di sini :    Proceeding Seminar